Bangun Suasana Reflektif, Panitia Paskah Gelar Nonton Bareng Kisah Sengsara Yesus
Admin Paroki
KUPANG, —
Keheningan menyelimuti halaman Kapela Stasi Santo Agustinus Bello, Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua, Kota Kupang, Jumat (3/4/2026) malam. Di bawah cahaya lampu sederhana, deretan kursi plastik menghadap layar putih, tempat umat dan panitia duduk berdampingan, larut dalam suasana hening yang mengajak masuk ke kedalaman batin.
Malam itu, kisah sengsara Yesus tidak hanya dikenang, tetapi seakan dihadirkan kembali.
Melalui pemutaran film The Passion of the Christ, Panitia Paskah 2026 menghadirkan sebuah ruang refleksi terbuka bagi umat sebagai bagian dari persiapan rohani menyambut Paskah. Kegiatan nonton bareng ini menjadi alternatif sederhana namun bermakna untuk menghidupi kembali peristiwa iman secara lebih personal.
Gambar demi gambar mengalir di layar. Hampir tak terdengar percakapan. Hanya sesekali bisik pelan memecah sunyi, sementara sebagian besar umat tenggelam dalam permenungan yang mendalam.
Anggota panitia, Ven da Chunha, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk menghadirkan pengalaman iman yang lebih nyata bagi umat.
“Kami ingin umat tidak hanya mendengar kisah sengsara, tetapi juga melihat dan merasakannya. Dengan begitu, makna pengorbanan Yesus bisa lebih menyentuh hati,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterbatasan sarana tidak mengurangi makna kebersamaan yang terbangun. Justru dalam kesederhanaan itu, umat dan panitia dapat berjumpa tanpa sekat, berbagi pengalaman iman dalam suasana yang akrab.
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat mempererat kebersamaan sekaligus membantu umat mempersiapkan diri secara batin menuju Paskah,” kata Ven.
Di antara umat yang hadir, Gabriel Ratu tampak bertahan hingga pemutaran film usai. Ia mengaku tersentuh oleh setiap adegan yang ditampilkan.
“Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Saya merasa lebih dekat dengan penderitaan Yesus dan semakin memahami besarnya kasih Tuhan,” tuturnya.
Bagi Gabriel, kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan ajakan untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan masuk ke dalam permenungan iman yang lebih dalam.
Tanpa panggung megah dan fasilitas istimewa, halaman kapela malam itu menjelma menjadi ruang batin. Tempat di mana kisah lama dihidupi kembali dalam keheningan, dan iman menemukan caranya sendiri untuk berbicara.
(goe)