Misa Pemakaman Romo Aldy Wungo Dipimpin Uskup Agung Kupang, Ribuan Umat Hadiri Prosesi
Admin Paroki
KUPANG, Senin 16 Maret 2026 —
Ribuan umat Katolik menghadiri Misa pemakaman almarhum Romo Aldy Wungo di Paroki Santa Maria Assumpta, Kota Kupang, Senin (16/3/2026). Misa dipimpin langsung oleh Uskup Agung Kupang Mgr. Hironimus Pakaenoni dan dihadiri puluhan imam dari berbagai paroki di Keuskupan Agung Kupang.
Romo Aldy Wungo yang merupakan salah satu formator di SMA Seminari Santo Rafael Oepoi Kupang meninggal dunia pada Jumat (13/3/2026) di Rumah Sakit Carolus Borromeus, Jakarta, setelah menjalani perawatan beberapa hari karena sakit.
Jenazah almarhum tiba di Kupang pada Minggu pagi (15/3/2026) dan disemayamkan semalam di tempat ia berkarya, yakni di SMA Seminari Santo Rafael Oepoi Kupang. Di tempat itu para imam, frater, seminaris, dan umat memberikan penghormatan terakhir sebelum misa pemakaman dilangsungkan.
Misa pemakaman Senin (16/3-2026)sekitar pukul 11.00 Wita di Gereja Santa Maria Assumpta Kupang. Suasana duka namun penuh khidmat menyelimuti seluruh rangkaian perayaan ekaristi yang dihadiri ribuan umat, keluarga, para imam, serta para seminaris.
Dalam homilinya, Mgr. Hironimus Pakaenoni mengajak umat untuk memandang kematian dalam terang iman dan harapan akan kehidupan baru yang dijanjikan Allah.
“Hari ini kita berkumpul dengan hati yang sedih untuk menyerahkan saudara kita tercinta kembali ke dalam kerahiman Allah. Namun di tengah kesedihan itu, Sabda Tuhan memberikan kita harapan,” ujar Uskup Agung Kupang.
Ia mengutip Sabda Tuhan tentang janji Allah yang menciptakan “langit yang baru dan bumi yang baru”, sebagai tanda bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya.
Menurut Uskup, iman Kristiani menegaskan bahwa penderitaan dan kematian tidak memiliki kata terakhir, karena Allah mempersiapkan kehidupan baru yang penuh sukacita bagi umat-Nya.
“Bagi kita yang sedang berduka, sabda ini meneguhkan bahwa iman kita tidak berakhir di makam. Rencana Allah selalu tentang kehidupan, pembaruan, dan harapan,” katanya.
Mgr. Hironimus juga mengenang perjalanan imamat Romo Aldy yang masih relatif singkat namun dijalani dengan kesetiaan dalam pelayanan kepada Gereja.
“Sepanjang perjalanan imamatnya yang masih sangat singkat, Romo Aldy telah berusaha menghidupi iman itu: percaya kepada Tuhan bukan semata karena tanda, tetapi karena Sabda-Nya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa seorang imam dipanggil untuk mempercayai Sabda Tuhan dan mewartakannya kepada umat melalui pelayanan sakramen, pendampingan pastoral, serta kesaksian hidup di tengah umat.
Menurut Uskup, kehidupan Romo Aldy merupakan bagian dari misteri panggilan Allah yang indah pada waktunya.
“Dalam rancangan dan karya Allah yang agung, yang selalu indah pada waktunya, Tuhan telah memanggil dan mempercayakan kepada Romo Aldy tugas imamat yang mulia. Tugas itu telah dijalankannya dengan taat dan setia,” kata Mgr. Hironimus.
Ia menambahkan bahwa Gereja percaya Romo Aldy kini dipanggil untuk masuk dalam kebahagiaan Tuhan sebagaimana sabda Injil: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.”
Usai misa pemakaman, jenazah Romo Aldy kemudian diarak menuju kompleks Seminari Tinggi Santo Mikael di Penfui untuk dimakamkan di pemakaman projo Keuskupan Agung Kupang.
Prosesi pengantaran jenazah berlangsung khidmat dan diiringi doa dari para imam, seminaris, serta umat yang mengantar hingga tempat peristirahatan terakhirnya.
(Humas Agustinus)